Tenang upaya berkelok kelok di dunia Afghanistan

Tenang upaya berkelok kelok di dunia Afghanistan

Tenang upaya berkelok kelok di dunia Afghanistan

Pada tanggal 29 Januari 2018, Presiden Joko Widodo melakukan pemeriksaan keadaan ke Afghanistan, di tengah banyaknya serangan bom di ibukota Kabul. Jokowi, panggilan akrab kepala negara, tampaknya memilih untuk tidak memakai rompi antipeluru untuk mengungkapkan maksudnya, bahwa rasa takut tidak akan gentar.

Pada awal penjelajahan setelah enam dekade yang lalu, Sukarno menginjakkan kaki di Kabul pada tahun 1961, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyematkan Medali Ghazi Amanullah kepada Presiden Joko Widodo karena keberanian dan keberaniannya untuk pergi setelah pembangunan ketenangan dalam konflik berusia 40 tahun. negara yang terancam.

Medali Ghazi atau Amir Amanullah Khan Award, tidak disematkan kepada individu manapun. Kehormatan pribadi terbesar di Afghanistan diberikan oleh presiden untuk warga Afghanistan atau asing sebagai akibat dari layanan Agen Bola Online Judi Bola Situs Judi Bola mereka ke Afghanistan.

Selain Jokowi, berbagai kepala negara lainnya juga telah diberi pahala yang sama, khususnya Perdana Menteri Narendra Modi India, Presiden AS George W. Bush, Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev, dan juga Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Afghanistan sebenarnya telah dilanda perang sipil dan perebutan 2 negara adidaya, Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Saat ini, dalam inisiatifnya untuk mengembangkan jembatan perdamaian, Afghanistan berusaha untuk sampai ke Indonesia.

Tenang upaya berkelok kelok di dunia Afghanistan

Masalah empat dekade di Afghanistan belum menunjukkan indikator mellowing. Pertarungan ini terjadi di antara berbagai tim milisi, dengan Taliban paling signifikan, dengan pemerintah. Taliban sendiri adalah kelompok perlawanan Muslim.

Pada Konferensi Perdamaian Kabul International Conference diikuti oleh perwakilan dari 25 negara – termasuk Indonesia – dan juga digantung pada tanggal 28 Februari, Presiden Ashraf Ghani bermaksud untuk menggunakan perdamaian bagi Taliban.

Ghani Tenang upaya berkelok kelok di dunia Afghanistan, dalam seminar tersebut, menggunakan partai politik Taliban. Ghani juga menjanjikan gencatan senjata, membebaskan tahanan Taliban, dan juga memberikan izin yang diberikan kepadanya.

Tawaran perdamaian ini bukan yang pertama kalinya. Juni 2017, sebuah pertemuan perdamaian diadakan di Istanbul, Turki, namun tidak menghasilkan apapun.

Sejauh ini, Taliban sebenarnya telah menolak pembicaraan dengan pemerintah federal Kabul sebelum tekanan profesi di bawah perintah AS meninggalkan Afghanistan.

Mengingat invasi Amerika Serikat ke Afghanistan pada 7 Oktober 2001, pasukan AS tidak pernah benar-benar meninggalkan daerah tersebut. Sebelum kepemimpinan Taliban dan juga pertempuran sipil pecah pada 1990-an, Afghanistan sangat terpengaruh oleh Soviet. Atau bahkan sebelum kedua kekuatan modern ini, Afghanistan adalah daerah Ottoman.

Latar belakang perselisihan

Afghanistan sendiri memiliki ribuan sumber daya mineral dan mineral yang belum ditemukan, dan memiliki prospek yang fantastis untuk mengembangkan negaranya. Sumber daya mineral utama di negara ini adalah kromium, tembaga, emas, bijih besi, dan juga unsur tanah jarang lainnya. Selain daerah tersentuh gas dan minyak.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pentagon dan juga Badan Survei Geologi AS, Afghanistan memiliki potensi mineral yang belum dipetakan yang belum dipetakan sebesar $ 3 triliun.

Konflik di negara ini semakin sulit karena kenyataan bahwa hubungannya dengan Pakistan, tetangganya, tidak berkenalan. Seiring dengan isu seputar, kedua negara juga saling terkait dengan tuduhan gerakan separatis bersenjata di wilayah masing-masing.

Pakar isu-isu negara Asia, Yon Machmudi, menganggap Afghanistan sebagai negara yang berhasil menyingkirkan Rusia – setelah itu masih Soviet.

Namun, Afghanistan gagal membangun konsensus di antara tim yang ada, menyebabkan perebutan kekuasaan.

“Akhirnya satu sama lain bertujuan untuk mengendalikan dan mengendalikan perkembangan ras mereka dan juga tidak ada kerja sama tim yang bisa dikembangkan,” kata Yon.

Masalahnya semakin akut karena Afghanistan ditutup oleh masalah korupsi.

“Itulah masalahnya, karena fakta bahwa negara awam itu konfliknya lebih besar korupsi,” kata pemenang penghargaan Doctor of the Asian Studies dari Australian National University (ANU) ini.

Yon menjelaskan bahwa langkah untuk membawa Taliban menjadi energi penting, karena Taliban adalah partai yang berkuasa dan juga memiliki dampak kecil di Afghanistan.

“Kalau dibiarkan semuanya akan bahaya tinggi karena masalahnya tidak akan pernah selesai,” kata pembicara di Universitas Indonesia ini.

Namun kerusakan tim juga bisa sangat berisiko tinggi karena kemampuan untuk terus melakukan balas dendam.

“Saya pikir dengan pemukiman nasional termasuk Taliban, idealnya pasti akan menghidupkan kembali pengaturan jangka panjang,” kata Yon.

Luncurkan ketergantungan Rusia-AS

Menurut Yon Tenang upaya berkelok kelok di dunia Afghanistan, Afghanistan telah lama melihat Indonesia sebagai contoh negara dengan keragaman spiritual dan juga etnis, namun bisa menjaga perdamaian di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ini berbeda dengan Afghanistan sebenarnya dari sisi iman maupun etnis yang tidak terlalu banyak, namun konfliknya sangat besar,” jelas Yon.

Yon memeriksa perselisihan di Afghanistan juga tak lepas dari tingkat kepentingan Rusia dan juga Amerika Serikat, yang hingga saat ini masih menarik tarik. Posisi taktisnya, bersebelahan dengan Rusia, membuat Afghanistan menjadi lokasi perantara bagi negara lain.

Oleh karena itu, Afghanistan harus berusaha meninggalkan ketergantungan pada Rusia-AS dan bertujuan memperbaiki masalahnya sendiri.

“Dengan menghubungi Indonesia, saya pikir ini adalah sinyal positif untuk menjaga mereka dari kontinuitas bergantung pada Amerika,” Yon membahas.

Pendekatan ulama Indonesia

Afghanistan sendiri telah memilih Indonesia sebagai tuan rumah konferensi klerus Afghanistan, Pakistan dan juga Indonesia untuk merumuskan perdamaian.

Pandangan Afghanistan tentang Indonesia dapat membantu para ulama untuk mengeluarkan sebuah tuntutan perdamaian di Afghanistan.

Selain menjadi negara berpenduduk mayoritas Muslim, Indonesia juga mempertimbangkan efektif dalam mengelola perselisihan di Aceh maupun Poso.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Muhyidin Junaidi mengatakan bahwa konferensi tersebut pastinya akan diadakan pada pertengahan Maret di Jakarta, mengundang sekitar 45 ulama dari tiga negara plus ulama Taliban.

Perdamaian Afghanistan dibela Seluruh Dunia

Isu yang dibahas, Muhyiddin mengklaim, berkaitan dengan fatwa unilateral berkenaan dengan mengizinkan untuk menyerang negara-negara yang didukung asing, prosedur fatwa, pemboman bunuh diri, dan sebagainya.

“Kami bermaksud berbicara langsung dengan mereka untuk menghentikan kekerasan,” kata Muhyidin kepada Anadolu Agency pada hari Minggu.

Muhyiddin mengklaim Majelis Ulama Indonesia telah benar-benar mengadakan pertemuan gabungan dengan Dewan Perdamaian Tinggi (HPC) Afghanistan untuk mengadakan konferensi tiga ilmuwan negara tersebut.

“HPC dibentuk oleh pemerintah Afghanistan, namun suaranya pro-Taliban, ada juga yang moderat,” kata Muhyidin.

Pengawas Kementrian Luar Negeri dan juga Kementerian Luar Negeri Asia Tengah Ferdy Piay menyatakan inklusi klerus dalam ketenangan di Afghanistan karena Indonesia menginginkan teknik soft power.

Diantaranya dengan mengembangkan Pusat Islam Indonesia di Kabul, diantar oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla saat berada di Kabul bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk berpartisipasi dalam sebuah konferensi perdamaian.

“Kami menginginkan struktur perdamaian,” kata Ferdy kepada Anadolu Agency di Jakarta, Ahad.

Secara substansi, kata Ferdy, ada Masjid As-Salaam yang diresmikan pada 2016. Selanjutnya pasti akan juga dikembangkan sentra serta koleksi yang memiliki publikasi Islam.

“Di dalam Islamic Center, kami juga akan membangun ruang pertemuan untuk para ilmuwan dan daerah yang akan dimanfaatkan,” kata Ferdy.

Selain itu, Ferdy mengatakan, Indonesia berniat untuk membantu Afghanistan dalam meningkatkan kemampuan untuk menangani sumber daya dan mineral.

“Afghanistan berlimpah di tambang. Pelatihan pasti akan diisi oleh Kementerian Perdagangan,” jelas Ferdy Tenang upaya berkelok kelok di dunia Afghanistan.